REI Bangun Program Sejuta Rumah – KONTRAKTOR JOGJA

 REI Bangun Program Sejuta Rumah.KONTRAKTOR JOGJA.

Harapan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki hunian nampaknya bisa kandas,akibat dari tekanan ekonomi dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar kini. Kalaupun bisa memiliki tempat tinggal tapi “diungsikan” ke lokasi yang jauh, yang akhirnya hanya menambah beban kehidupan. Namun, anggapan itu dihilangkan oleh beberapa terobosan yang dilakukan Realestat Indonesia (REI).REI berkomitmen untuk mensukseskan program Sejuta Rumah yang visinya sama dengan Pemerintah, yakni meningkatkan harkat martabat, mutu kehidupan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Memiliki hunian merupakan idaman semua orang,namun mimpi itu seringkali terkendala dengan biaya. Untuk memiliki hunian yang dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai tentu saja harus merogoh uang yang banyak. Pasalnya, harga tanah akan merangkak naik mengikuti sarana dan prasarana yang ada di kawasan tersebut.

Untuk mensukseskan program Sejuta Rumah bagi rakyat Indonesia, REI merekomendasikan beberapa poin penting kepada pemerintah. Pertama, melakukan sinkronisasi regulasi dan birokrasi yang terkendali dan terlaksana sampai tingkat pelaksana. Hal ini meliputi penyelesaian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), pengendalian harga, pembebasan tanah, penyederhanaan dan pembebasan biaya perizinan untuk rumah MBR, waktu dan biaya sertifikasi serta regulasi yang terintegrasi.

Kedua, meningkatkan daya beli MBR yang meliputi penyediaan dana yang memadai, suku bunga KPR maksimal 5 persen, subsidi uang muka, BPHTB 1 persen, adanya komitmen dari bank pelaksana, KPR bagi pekerja sektor informasi, serta bantuan uang muka bagi PNS/TNI-Polri.

Ketiga, sinergitas pemerintah dan swasta untuk meningkatkan penyediaan perumahan bagi MBR. Hal ini meliputi pemanfaatan lahan milik Pemda, kredit pemilikan lahan, kredit konstruksi FLPP, keringanan perpajakan, dukungan infrastruktur dan kelistrikan, serta penentuan harga jual RST yang dapat dipatok maksimal sebesar Rp 200 juta serta maksimal Rp 10 juta per meter persegi untuk Rusunami dengan kenaikan di tahun berikutnya sebesar 5 persen plus inflasi di tahun berjalan.

Ketua Umum REI Eddy Hussy mengatakan, ketiga poin tersebut direkomendasikan, sebagai bentuk kepedulian pengembang yang tergabung dalam REI dengan tujuan agar MBR bisa memiliki rumah, tanpa menambah beban.

Hingga September 2015, REI telah membangun 137.150 unit rumah dari target 247.72 unit. Sebanyak 217. 725 unit merupakan rumah sederhana tapak dan sisanya rumah susun sederhana milik (rusunami). Sementara, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) angka kebutuhan rumah (backlog) di Indonesia, berdasarkan konsep kepemilikan ada 13,5 juta unit.

Menteri Agraria dan Tata Ruang atau Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Ferry Mursyidan Baldan memastikan bahwa berbagai faktor yang menghambat penyediaan rumah bagi rakyat ini bisa diselesaikan. Lantas dia meminta kalangan pengembang khususnya anggota REI untuk mendukung program sejuta rumah dengan tidak mengambil untung terlalu banyak. “Tentu namanya usaha swasta harus untung, tapi jangan ambil terlalu banyak dari program sejuta rumah, jadi harus ada visi yang diemban.

Program rumah murah juga jangan sampai menambah beban hidup masyarakat terkait dengan akses jalan maupun infrastrukur pendukung lainnya. Artinya, jangan sampai setelah masyarakat memiliki rumah, beban kehidupannya justru malah bertambah karena lokasinya yang jauh dengan tempat kerja.

“Harus dimulai pendekatan bahwa membangun itu bukan hanya fisik tapi membangun ruang kehidupan. Karena itu infrastruktur harus memadai dan akses serta hal lainnya bisa terjangkau. Misal jangan sampai yang tadinya bisa berjalan kaki ke sekolah sekarang harus naik ojek, ini artinya kemanfataan dengan memiliki rumah malah tidak tercapai,”.  sumber (suara pembaruan )

Bagikan Via

Comments